Friday, 23 March 2007

Gambaran kejadian itu masih samar dalam benakku, tapi seingatku suatu malam seorang anak kecil lari keluar dari kamar tidurnya menuju sebuah ruang gelap yang sebenarnya dia pun takut untuk masuk kedalamnya. Jantungnya masih berdetak kencang, nafasnya terdengar jelas terputus-putus serta pandangannya tertuju pada sebuah kotak kayu dengan gembok besar, melihat dari susunan letak kotak tersebut jelas terkesan diletakan secara khusus oleh sang pemilik ditempat itu, seingatku di sebuah lemari kayu tua. Debu yang masih menutupi setiap sisi kotak itu mengisyaratkan pula bahwa tak ada yang berani menyentuhnya atau mungkin tak ada yang melihatnya setelah sekian lama. Dia telah terlupakan, terabaikan. hanya seekor ibu laba-laba yang setia menemaninya dan menjadikannya rumah bagi anak-anaknya..
Ya.. bayangan anak kecil itu masih jelas terlihat sedang duduk bersila memandang kotak itu dengan penuh rasa ingin tahu, tampak dari bibir yang terus bergumam seakan sedang bicara dengan seseorang. Beberapa saat kemudian anak kecil itu tanpa rasa ragu memanjat lemari, menarik kotak usang itu ya.. aku jelas aku melihat dia tersenyum saat memegang kotak itu. Anak kecil yang sedang belajar membaca, mengeja tulisan di atas kotak dengan terbata Schi…zo…phre…ni….a…. Anak kecil itu mengernyitkan dahi, tak mengerti arti tulisan tersebut. Rasa penasaran membuat anak kecil itu membuka paksa sang ‘ScHiZopHReNia’. Segala cara dia lakukan. Dari mencoba banting, congkel dan injak-injak kotak itu.
Pada akhirnya sang kotak itu pun terbuka, sekelebat bayangan hitam besar keluar dari kotak itu, menyeruak, mengisi setiap ruang kosong dengan rasa dingin, sakit dan luka yang mendalam. Apa mungkin itu bayangan hitam itu masa laluku ??
Anak kecil yang baru pandai membaca itupun hanya duduk terdiam. Dia tak menemukan apa yang dia cari. Dia pun pergi meninggalkan kotak usang itu dalam keadaan terbuka, segala yang telah tersimpan di dalam kotak itu pun dibiarkannya begitu saja. Kumpulan bayangan berwarna hitam itu kini terus menebal, menghancurkan semua yang ada. Kembali meninggalkan segala luka dan derita.. banjir air mata tak mampu menenggelamkannya, topeng kebahagiaan tak mampu menyembunyikannya..

Yang terlintas dalam benakku saat itu, aku butuh seseorang yang dapat membantuku untuk menghapus air mataku, memasangkan topeng senyum kebahagiaan dalam wajahku kembali. Aku rasa anak kecil itu telah mendapatkannya.. ya saat dia memandang kotak itu sepertinya dia sedang bicara dengan seseorang… Tapi aku tidak melihatnya ???

Lalu aku bertanya pada bayangan hitam itu, “Kapankah kamu akan pergi dari hidupku?”. Bayangan hitam memberikan seuntai senyum licik “Tidak akan pernah! karena aku akan terus mengikutimu, dalam setiap derap langkah yang kamu ambil.. menghantui hidupmu.. selamanya..” suara itu langsung menghantar udara dingin yang membekukan hati dan pikiranku.. aku beku.. buntu.. Ya seperti keenam suara yang sudah 27 tahun bersamaku..

Apa mungkin mereka penghuni kotak usang itu ??

Akankah muncul seseorang untuk menangkap dan memerangkap sang bayangan kelam untuk menguncinya kembali ke dalam kotak ScHizopHRenia ? Aku ingin melakukannya.. tapi tubuh ini terlalu lemah.. hati ini sedang terluka parah.. berharap keajaiban datang, mengambil semua luka yang ada dan membalut hati ini dengan kedamaian, kehangatan, untuk menebarkan berjuta kasih sayang dan cinta dimana-mana..

Ibu.. di kamar ini aku selalu melakukan hal-hal yang sering kau pantangkan kepadaku. Puluhan buah batang rokok sudah kuhabiskan, bermain dengan asap racun yang bertahun-tahun bersamaku. Ibu pasti menangis saat menerima surat ini, menangis mengetahui kerinduan dari anakmu yang menghilang beberapa tahun lalu.

Ya... hanya dengan menulis surat seperti ini aku dapat mengungkapkan apa yang malam ini aku rasakan, entah sudah berapa surat yang kutulis, ya surat-surat yang tidak pernah terkirim. Tak seorangpun yang tahu apa yang aku rasakan saat ini dan tak pula seorangpun kuizinkan untuk mengetahuinya. Mereka memiliki ibu sendiri, dan aku juga memiliki seorang ibu yang selalu mendidik anaknya untuk tetap kuat dalam hidup ini.

Surat – surat yang tak pernah terkirim ini selalu aku simpan dengan apik dalam kotak kayu jati berukir enam sosok wajah, yang sengaja aku membuatnya sebelum aku meninggalkan semua orang-orang terdekatku. Aku dapat merasakan apa yang tersirat dalam surat-surat itu dimana seperti sedang duduk bersimpuh dikakimu dan melihat kedua ujung lengkung bibirmu naik keatas sambil meneteskan air mata. Ketika semua orang tidak mau lagi tersenyum kepadaku, ketika suara-suara dalam kepalaku menyudutkanku dalam ruang gelap serta memaksaku untuk duduk di sudut ruangan, saat senyumku tak mampu kuperlihatkan kepada mereka, saat masa lalu itu hidup kembali dalam pikiranku…. kotak inilah yang tak akan pernah lepas dari pelukanku..

Ibu.. Maafkan anakmu yang selama duapuluh tujuh tahun membohongimu, bohongku untuk kau tersenyum sedangkan kejujuranku sulit untuk mereka terima dan mungkin hanya akan membuatmu larut dalam kesedihanmu. Sudah cukup kepedihanmu semasa hidupmu mengasuh ketujuh anak serta suamimu. Malam ini aku menulis surat ini dengan tersenyum..ya aku masih tersenyum bu….!! Walaupun air mataku terus saja mengalir tapi air mata bahagia dapat bicara denganmu seperti ibu tersenyum pada saat membaca bagian ini.

Aku yakin hidupku tinggal beberapa saat lagi aku berharap seandainya ajalku tiba nanti, aku telah menyimpan kotak ini ditempat yang aman dimana tidak seorangpun yang dapat menemukannya.. cukup aku saja yang merasakannya. Harapku ini bagian terakhir yang harus aku selesaikan dengan baik.

Ibu, aku tersenyum untukmu malam ini sujud dari anakmu yang hilang dari kehidupanmu beberapa tahun yang lalu. :)

Labels: