![]() |
![]() |
  | |
|
Monday, 12 October 2009 Sejak kecil aku selalu sering menyendiri dan terkadang berbicara sendiri tanpa pernah mau mengerti dengan siapa sebenarnya aku bicara. Saat aku duduk sendiri, aku merasa tidak sendiri dan aku merasa itu jauh lebih baik dimana aku mendapatkan ketenangan dalam pikiranku. Aku pikir melamun itu sudah menjadi kodrat seorang manusia, tak satupun manusia yang terlahir dibumi ini yang tidak pernah merasakan apa itu M.E.L.A.M.U.N. Apakah itu melamunkan suatu kejadian yang telah berlangsung,masalah pribadi, masalah pekerjaan, masalah keluarga, masalah politik, masalah nasib, masalah ekonomi dsb. Bisa melamunkan hal-hal positif dan bisa juga negative. Tentunya fokus dan bobot yang dilamunkan oleh setiap orang akan berbeda sesuai dengan status sosialnya. Ada kecenderungan semakin banyak masalah yang dihadapi seseorang semakin banyak melamun. Kalau sudah begitu dengan lamunannya,seseorang terkadang tidak sadar ada orang lain yang menegurnya. Semacam sementara waktu kehilangan kendali akan keadaan dirinya. Mmmmmm... rasanya kita mulai akan masuk dalam topik kita yang utama. Apakah melamun itu perbuatan negatif? Ya bisa jadi seperti itu kalau melamun dipandang sebagai pekerjaan yang sia-sia atau perilaku malas. Padahal dalam prakteknya kebanyakan tidak seperti itu. Melamun merupakan salah satu caraku untuk memotivasi diriku, entah dengan membayangkan sesuatu yang negatif ataupun membayangkan bahwa segala sesuatu itu mudah sebenarnya. Tapi untuk melakukan itu aku butuh seorang figur atau sosok orang yang aku anggap memiliki kompetensi dalam memerankan lamunanku itu. Seorang peneliti menghasilkan temuan mutakhir diawali dari melamun atau menghayal. Seorang dosen mampu membuat buku-buku ilmiah juga didasarkan pada lamunannya. Seorang pebisnis menemukan suatu komoditi yang layak pasar ketika dia selesai melamun tentang ekspansi bisnis masa depan. Seperti yang dikutip dari hasil studi Kalina Christoff ( KetuaTim Penelitian ) ahli psikologi dari University of British Columbia (UBC) menunjukkan otak akan bekerja aktif pada saat seseorang melamun bahkan lebih aktif dibandingkan pada saat kita fokus mengerjakan pekerjaan rutin. Selanjutnya dia mengungkapkan, pada saat proses melamun, kita tidak serta merta dapat segera mencapai apa yang kita inginkan. Namun pikiran kita akan memanfaatkan saat itu untuk menyampaikan pertanyaan terpenting dalam hidup kita. Keburukan dalam hidupku bermula dari kebiasaanku sejak kecil yaitu aku tak pernah terlepas dengan masalah yang satu ini, melamun sudah kuanggap semacam mimpi/cita-cita yang lalu dibahas dalam suatu 'R.A.P.A.T' keluarga dengan tokoh-tokoh yang aku ciptakan sendiri dalam pikiranku. Disitu tak jarang akan tersusun langkah-langkah perencanaan pencapaian tujuanku baik itu sebuah perencanaan yang licik maupun perencanaan strategis dan operasional yang matang. Mereka kubiarkan dengan bebas saling ber-argumen dalam pikiranku dan aku hanya butuh waktu untuk melamun agar dapat memperhatikan masing-masing peran yang dimainkan oleh semua tokoh-tokoh ciptaanku sendiri. Dan pada akhirnya..... mulailah aku bergerak untuk memenuhi lamunan itu. Aku pernah membaca sebuah artikel bagus di internet, yang kurang lebih sebagai berikut : Dalam melamun kita bisa membentuk hal-hal yang tak masuk di akal, konyol, bodoh atau mungkin lebih kepada sesuatu yang orang lain menganggapnya sesuatu yang “G.I.L.A”. Akan tetapi dalam prosesnya, sebuah lamunan atau gagasan aneh itu dapat diolah dan bisa berubah / dapat dirubah menjadi sesuatu yang orang lain justru akan menjadi kagum dan menjadi sesuatu hasil yang tak terduga nilainya. Lalu lamunan semacam apa yang bisa menghasilkan hal-hal semacam itu ?? Pernapasan.... ya aku ingat kata-kata yang sering masuk dalam telingaku saat emosionalku tidak dapat aku kendalikan, orang-orang sekitarku akan berkata "Sabar.. sabar... ambil nafas panjang.... bla..bla..bla.." dan herannya aku selalu menuruti jika ada yang bicara seperti itu tapi konyolnya aku tidak pernah memperlihatkan sikap penerimaan walaupun jujur aku telah melakukannya... dasar egois kau !!!. Ok. dari pengalaman diatas jelas terlihat bahwa kita akan menjadi jauh lebih stabil jika kita dalam keadaan rileks atau tenang. Jadi bisa dikatakan Syaratnya adalah harus dilakukan dalam kondisi rileks. Dengan kata lain gagasan cemerlang tidak mungkin diperoleh ketika suasana hati sedang tegang. Mengapa? Karena ketegangan akan menimbulkan kondisi otak tidak dalam keadaan nyaman dan gagal bekerja secara optimum untuk menghasilkan ide-ide cemerlang dan orisinil. Karena itu banyak hal yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang baru dengan cara melamun dalam suasana santai. Entah ketika masa vakum dari pekerjaan, berlibur, menjelang tidur, dan bahkan di kamar mandi. Lalu pertanyaanku, bagaimana jika kita sering meng-create tokoh-tokoh yang kesemuanya memiliki karakter yang kuat dan kita sendiri tidak pernah membuang karakter itu jika sudah selesai menuntaskan lamunan atau mimpi dan cita-cita kita selama ini, serta apa peran selanjutnya dari tokoh-tokoh ciptaan kita itu yang tetap hidup dalam pikiran kita ?? dan apa yang dilakukannya sehari-hari jika mereka semua tetap dihidupkan dalam pikirannya selama bertahun-tahun. Apapun yang terjadi nanti, tetap hanya L.A.M.U.N.A.N pula yang dapat menuntaskan ini semua. Labels: Psikologi, schizophrenia |
  | ||
|   | ![]() |
![]() |
  |